Selasa, 24 Juli 2012

Hingga akhir


Hachiko adalah seekor anjing jantan jenisAkita Inu. Namanya sewaktu kecil adalah hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saito dari Kota Odate, Prefektur Akita. Lewat seorang perantara, hachi dipungut oleh keluarga Uenoyang ingin memelihara anjing jenis akita inu.

Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburo Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Waktu itu, usia Profesor Ueno menginjak 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno sendiri adalah pecinta anjing. Sebelum memelihara hachi, Profesor Ueno pernah beberapa kali memelihara anjing akita inu, namun semuanya tidak berumur panjang.

Kebiasaan hachi adalah selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang, ketika Profesor Ueno berangkat bekerja. Bahkan, hachi kadang  mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Malamnya, hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput Profesor Ueno.


Tanggal 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, tanpa diduga, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Dan seperti biasa, hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, sampai nggak mau makan selama 3 hari.

Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, Hachi masih tidak mengerti bahwa Profesor Ueno sudah meninggal. 
Setelah kepergian Profesor Uneo, nasib malang ikut menimpa hachi. Yae harus meninggalkan rumah almarhum Profesor Ueno, karena ternyata, Yae tidak pernah dinikahi secara resmi.

Sejak saat itu, hachi dititipkan kepada kerabat Yae dan profesor Ueno. Namun, sepertinya mereka kurang cocok dengan hachi. Hingga pada musim gugur tahun 1927, hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluarga Ueno.

Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya, dekat dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, hachi kembali terlihat menunggu kepulangan majikannya tersebut di Stasiun Shibuya.

Kisah hachi menunggu majikan di stasiun, mengundang perhatian Hirokichi Saito dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Saito menulis kisah sedih tentang hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul Itoshiya rōken monogatari ( Kisah Anjing Tua yang Tercinta ).

Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Saat itu, cerita tentang hachi menjadi terkenal. Pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran  (sayang ) ditambahkan di belakang nama hachi, dimana akhirnya orang memanggilnya dengan nama hachikō.

Sekitar tahun 1933, kenalan Saitō, seorang pematung bernama Teru Andō tersentuh dengan kisah hachikō. Sama dengan Saito, Andō ingin membuat patung Hachikō. Setiap hari, hachikō dibawa berkunjung ke studio milik Andō untuk berpose sebagai model.

Patung perunggu hachiko akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada bulan April 1934, dan disaksikan sendiri oleh hachikō bersama sekitar 300 hadirin. Selain itu, Ando juga membuat patung hachiko yang sedang bertiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohitodan Permaisuri Kojun.

Sayangnya, pada tanggal 8 Maret 1935, selepas pukul 06.00 pagi. hachikō, 13 tahun, ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya.

Kisah kesetiaan Hachiko memang mengharukan, tapi lebih mengharukan lagi sikap kita yang jauh berbeda dengan Hachiko, Seekor anjing saja bisa begitu setia menanti majikannya hingga akhir waktunya, mengapa kita tidak bisa setia terhadap sesama kita, terlebih pasangan kita??

Awali langkah diri dengan Kesetiaan

Dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar